cerita lain-lain

Facebook untuk Pendidikan

23.09vidya putra

Hari ini tidak ada pelajaran yang berlangsung alias libur, karena dosen – dosen dan pegawai kampus sedang libur. Pembahasan yang sedang berlangsung berkaitan dengan maraknya mahasiswa yang menggunakan fasilitas kampus untuk membuka Facebook, saat di kelas, di lab, sehingga sering mengganggu—peserta rapat ada yang mendukung agar Facebook di blok dan ada yang tidak setuju.

Pak Edu, tentunya tidak setuju “dengan memblok Facebook tidak akan menyelesaikan masalah” kata pak Edu dengan suara tegas. “mereka tetap saja akan membukanya, dari smartphone, HP, komputer admin, komputer asisten, komputer laboran; darimana saja setiap ada kesempatan”

“Untuk itu blok tidak dilakukan pada server lokal fakultas” kata pak Totok setelah mendengarkan apa yang dikatakan pak Edu. “Blok akan dilakukan langsung dari pusat, di server utama kampus” “jadi tidak akan ada yang bisa membuka darimanapun, termasuk dosen, pegawai, siapapun” pak Totok adalah dosen jaringan sekaligus kepala lab Jaringan Komputer & Internet, beliau adalah salah satu dosen yang ditakuti oleh mahasiswa karena terkenal kaku dan galak.

Pak Edu tersenyum tipis, takut kalau ada yang tersinggung. “Begini bapak dan ibu semuanya” kata pak Edu kepada semua peserta rapat—sengaja tidak fokus pada pak Totok agar beliau tidak tersinggung “Memblok Facebook bagaimanapun caranya tidak akan menyelesaikan masalah, karena memang sekarang ini sudah jamannya social media...web 2.0...sekarang kita memblok Facebook, bagaimana dengan Friendster, Koprol, twitter, jaiku, plurk, Yelp, tagged, flixer, fupei, foursquare, bundagaul, dan masih banyak lagi yang akan terus bermunculan...apa semua mau di blok?” tetap tenang dan cool, pak Edu melanjutkan kembali “karena memang jamannya social media, semua orang menggunakan, semua mahasiswa menggunakan—apalagi kampus kita adalah kampus teknologi, semua mahasiswa kita pasti menggunakan; jadi mengapa kita tidak memanfaatkan juga social media untuk kegiatan kuliah” “daripada mereka bermain – main tidak jelas, kita ajak mereka menggunakan media tersebut untuk belajar....jadi bagi mereka belajar terasa lebih asik”

“bagaimana cara memanfaatkannya?” tanya pak Totok, mulai tertarik. Matanya menatap lurus ke pak Edu. Bahkan tidak hanya pak Totok yang menatap lurus ke pak Edu, semua peserta rapat memandang dengan serius.

“Pertama, tentu saja...dosen-dosen membuat account Facebook. Itu sudah pasti...hehehehe...” pak Edu berusaha bercanda agar semua tidak telalu serius, tapi usahanya gagal. Karena semua peserta rapat masih menatapnya dengan serius. “Tapi jangan menggunakan account tersebut sebagai account pribadi, jadikan account tersebut untuk berbagi link materi, link pendidikan, link – link yang bermanfaat, photo-photo...yang berkaitan dengan mata kuliah, event-event seminar, quiz atau lomba, atau hanya sekedar berbagi lewat status..”

“Kemudian, kalau mau kita bisa memanfaatkan Facebook group atau FanPage... fungsi didalamnya bahkan disediakan media diskusi...jadi bisa dimanfaatkan untuk mata kuliah, atau untuk kampus” “dan tidak hanya itu, aplikasi – aplikasi Facebook banyak juga yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan...dukungan dari Facebook sendiri juga ada, terbukti dengan adanya group Facebook for Education dan fanpage Education” “di dalam group Facebook for Education banyak sekali informasi mengenai universitas – universitas yang memanfaatkan Facebook untuk pendidikan, selain itu juga banyak informasi mengenai aplikasi yang dapat kita manfaatkan...atau kalau mau kita dapat membuat sendiri...” kata pak Edu, sekarang beliau terbakar semangat...beliau selalu bersemangat dalam berbagi ide, karena itu saya suka berdiskusi dengannya.



“Ok...” kata bu Erna dengan keras, untuk menarik perhatian pak Edu dan seluruh peserta rapat. “Saya rasa penjelasan mengenai Facebook bisa dimengerti...” beliau adalah pemimpin rapat hari ini. “saya tertarik juga dengan Facebook untuk pendidikan ini, jadi saya putuskan untuk menunda pembahasan...tapi saya minta pak Edu untuk membuatkan proposal mengenai ini, kira – kira apa yang dibutuhkan, bagaimana caranya, mengapa, dll...informasi lengkap” kata bu Erna. “Bisa?” katanya sambil tersenyum.

“Eh...emmm...” pak Edu nampak ragu, karena pekerjaanya sendiri cukup banyak. “Bisa donk pak...” kata pak Totok bercanda “tadi kan sudah semangat menjelaskan, heheheh...”. “Oke...saya bisa, kira – kira 2 minggu?”

*nama orang - orang di cerita ini semua buatan, nama kampusnya saya belum ada...ada ide?
*berikut video pendukung dari Youtube >>

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak