Senin, 19 September 2011

Belajar berenang : Bagian 1

Berenang merupakan kegiatan yang menyenangkan dan sehat, selain itu juga skill yang cukup penting untuk dimiliki. Beruntung saya karena sejak kecil sudah belajar berenang, bahkan mendapat kesempatan untuk melatih/mengajar renang di club renang. Ketika saya mengajar renang kepada mahasiswa - mahasiswa baru yang sama sekali tidak bisa berenang, saya sempat mencoba metode mengajar yang unik namun menurut saya cukup berhasil. Di bagian 1 ini, saya akan menyampaikan hal - hal dasar berkaitan dengan renang.


Pernafasan
Walaupun kita sudah biasa bernafas sejak lahir, namun untuk belajar berenang ada beberapa hal yang perlu diketahui.
1. Hal paling dasar adalah dalam berenang sebaiknya menarik nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat hidung, mengapa? karena dengan bernafas seperti itu, ketika menarik nafas jika air tidak sengaja masuk dan tertelan anda tidak akan apa - apa; berbeda halnya jika air masuk ke hidung, maka pernafasan akan terganggu dan terasa tidak nyaman...

2. Didalam air keluarkan udara secara teratur melalui hidung
, mengapa? Biasanya hal ini diajarkan oleh pengajar renang, namun muridnya kadang tidak mempraktekkan padahal hal ini juga akan membantu anda lebih nyaman dalam menarik nafas selama berenang. Sebenarnya ketika kita menahan nafas dalam waktu tertentu kemudian menarik nafas kembali, udara yang kita keluarkan tidak 100% mengosongkan paru - paru kita sehingga udara yang kita hirup tidak 100% mengisi paru - paru kita, akhirnya kita tidak merasa nyaman dan ingin menarik nafas lagi...lagi dan lagi... itulah gunanya kita menghembuskan nafas ketika berada didalam air (teratur) karena dengan mengeluarkan maka paru - paru kita akan kosong 100% dan ketika kita menarik nafas, akan dengan mudah mengisi paru - paru kita. Karena itu orang yang sudah terbiasa berenang tidak perlu membuka mulut lebar - lebar dan menghirup dengan sekuat tenaga.

Bergerak di air
1. Bergerak di air tidak sama dengan ketika kita bergerak di darat. Ketika kita diair jika kita salah bergerak bisa jadi kita bukan mengapung malah tenggelam, bukannya maju malahan mundur. Jadi saya biasanya ketika mengajarkan berenang berusaha agar orang tersebut merasa nyaman dan terbiasa bergerak diair. Untuk terbiasa dengan air dan dapat merasakan gaya dorong/tarik selama berenang, saya biasa memulai dengan meluncur.

Berdirilah dengan bersandar di tepi kolam, angkat tangan ke atas dengan telapan tangan menumpuk (susun), tempelkan lengan di telinga rapat - rapat, tarik nafas (dari mulut), kemudian dengan 1 kaki berpijak di dinding, tendang dinding kolam dan meluncur. Ketika meluncur, anda tidak perlu bergerak, rasakan saja badan anda meluncur (jauh atau dekat tidak masalah), tahan nafas sebentar kemudian hembuskan melalui hidung di dalam air, berdiri ketika badan sudah tidak meluncur, tenggelam atau kehabisan nafas, lakukan berulang - ulang.


2. Rapatkan jari - jari tangan. Jika jari - jari anda terbuka selama berenang, maka sama saja dengan anda mendayung dengan dayung yang lubang tidak akan berguna. Untuk itu selama berenang rapatkan jari - jari, dan buatlah hal ini menjadi kebiasaan; waktu saya awal - awal berlatih biasanya saya mengikatkan karet di jari saya, hingga akhirnya sekarang tanpa sadar, setiap kali saya berenang jari - jari saya akan secara otomatis rapat.
Jadi, demikian tahap awal dalam berenang. Simple bukan? pada awal - awal belajar berenang menurut saya yang terpenting adalah nyaman dan mengenal air, karena bergerak di dalam air berbeda dengan bergerak di daratan. Kira - kira untuk bagian 1 ini, lakukan 2 atau 3 kali jadwal renang^^

NB : kalau ada yg mau ditanyakan mengenai renang, komentar saya dibawah atau via twitter di @vidyaputra atau facebook

Senin, 12 September 2011

Garam dan Telaga

Suatu ketka hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Anak muda itu nampak sedang tidak bahagia. Ketika ditanya, anak muda itu langsung menceritakan masalahnya kepada bapak tua yang bijak tersebut. Pak tua yang bijak hanya mendengarkan dengan seksama, hingga anak muda itu selesai bercerita.

Kemudian, setelah anak muda itu selesai bercerita bapak tua tersebut kemudian mengambil segengam garam, dan meminta anak muda tersebut mengambil segelas air. Ditaburkannya garam tersebut kedalam gelas, dan diaduk perlahan. “Coba minum air ini, dan katakan padaku apa rasanya...” ujar pak tua itu.

“Asin, asik sekali!” kata anak muda tersebut sambil meludah ke tanah. Melihat hal tersebut pak tua itu tersenyum, iapun kembali mengambil segengam garam, kemudian ia menaburkan garam tersebut kedalam telaga. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk – aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga tersebut.

“Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah” Mendengar permintaan bapak tua tersebut, si anak muda itu lalu mereguk air ditelaga. “Bagaimana rasanya?” tanya pak tua setelah anak muda itu mereguk air telaga. “Apakah kamu merasakan garam yang ada?” tanyanya kembali.

“Tidak...” jawab anak muda.

Dengan bijak pak tua mengajak anak muda itu duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segengam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.” Kemudian pak tua berhenti sebentar, melihat wajah si anak muda. Setelah beberapa waktu, pak tua itu kembali melanjutkan “Tapi kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua tergantung pada hati kita. Jadi ketika kamu merasakan kepahitan dari kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang dapat kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu” “Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”
Setelah mendengar nasehat pak tua itu, si anak muda menghela nafas lega dan muncul senyum kecil diwajahnya. Mereka kemudian melihat kearah telaga tersebut, duduk menikmati pemandangan sekitar.