berbagi cerita

ISO, Shutter dan Aperture sebagai alat kreatifitas

19.31vidya putra

Hal yang paling mendasar di dalam fotografi adalah ISO, Shutter Speed dan Aperture karena ketiga hal ini akan menentukah hasil terang dan gelap foto. Walaupun jaman sekarang dengan adanya kamera digital dan program olah gambar, kita dapat mengubah hasil setelah gambar/foto di ambil, tapi ketiga hal ini tetap penting (paling tidak menurut saya).

ISO : menentukan seberapa sensitif sensor terhadap cahaya, atau ASA dalam kamera analog yang menentukan seberapa sensitif film terhadap cahaya. Semakin tinggi ISO, maka noise akan semakin kuat atau nampak, dan warna juga akan sedikit terganggu.
SHUTTER SPEED : menentukan seberapa cepat bukaan shutter, tentu menentukan seberapa lama gambar direkam. Semakin cepat gambar yang di rekam akan semakin singkat, dan sebaliknya.
APERTURE : menentukan seberapa besar bukaan lubang, mempengaruhi seberapa banyak cahaya yang masuk. Semakin kecil angka aperture berarti bukaan semakin besar, dan sebaliknya semakin besar angka aperture maka bukaan semakin kecil. Jika bukaan semakin besar maka DOF akan semakin sempit (apa itu DOF).

Ketika mempelajari tentang ketiga hal tersebut memamg terasa sangat teknis, banyak angka dan hitungan. Berapa isonya, apakah 200, 400, 800, berapa shutter speednya apakah 60, 125, 250, kemudian bagaimana denga apeturenya 2, 4, 6, 8, 11, 16? Semua itu harus dipikirkan hanya untuk mendapatkan kualitas cahaya yang pas. Teknis sekali...

Di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan mengenai ISO, Shutter Speed atau Aperture karena sudah banyak tulisan seperti itu di internet :) saya hanya ingin menyampaikan pemikiran/basa basi, berbagi pengalaman saya. Semakin lama kita belajar dan berpraktek fotografi, semakin kita menguasai ketiga hal mendasar ini, perlahan lahan hal yang sebelumnya dirasa teknis akan menjadi sesuatu yang alami dan kemudian muncullah kreatifitas didalamnya.

Yang saya maksud dengan kreatifitas adalah, jika sebelumnya kita menggunakan ISO, Shutter Speed dan Aperture untuk mendapatkan kualitas cahaya yang pas; sekarang kita mulai menggunakannya untuk kreatifitas. Mendapatkan noise yang sesuai kreatifitas kita, menambahkan gerak dinamis dalam foto atau mendapatkan DOF yang tepat sesuai imajinasi. Kemudian foto kita tidak lagi harus kaku dengan cahaya yang tepat, tapi bisa jadi blur, tajam segala bidang, atau tajam hanya pada area yang sempit, foto dengan cahaya yang gelap, terang atau terang sekali. Mungkin juga kita ingin foto kita hanya menangkap moment yang sangat singkat, dll.

Jangan terpaku pada pemikiran bahwa foto portrait dengan "bokeh" adalah yang bagus, atau misalnya menggunakan lensa tele akan memberikan hasil portrait yang terbaik, atau foto yang bagus adalah ketika wajah modelnya kelihatan mulus bersih, dan hal - hal sejenisnya. Karena ketika berbicara kretifitas, maka semua itu menjadi relatif, tergantung selera masing - masing orang. Jangan sampai kretifitas kita terkekang hanya karena orang lain mengatakan A,B dan C :)

Ketika sudah mencapai tahap ini, ketika itulah fotografi akan terasa menyenangkan dan menarik sekali, bikin kecanduan :) menurut saya...

Berikut beberapa contoh foto yang menurut saya bisa menjadi contoh dan sumber inspirasi. Semoga tulisan basa basi ini bermanfaat, khususnya untuk yang baru belajar fotografi.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Instagram

Formulir Kontak