Jumat, 11 Juli 2014

Sangjit / Seserahan, apa itu?

Dapet booking-an untuk foto acara Sangjit, di jakarta pada agustus 2014 nanti, dan jujur saya sering dengar Sangjit tapi belum pernah tahu apa itu :) yang saya tahu hanyalah Sangjit merupakan salah satu acara terkait dengan pernikahan dalam budaya Tionghoa, selain itu blank... Jadi sebagai persiapan tentunya saya mulai mencari informasi apa Sangjit itu, dari internet, dari kenalan, dan lain - lain.

Sangjit memang merupakan salah satu acara / kegiatan yang dilakukan dalam budaya Tionghoa, Sangjit sendiri sering diterjemahkan sebagai "Seserahan" yang merupakan kelanjutan dari proses "Lamaran". Garis besarnya dalam acara Sangjit ini adalah -- keluarga pihak pria, mengantarkan seserahan kepada pihak keluarga wanita.

Proses dan detail Sangjit sendiri sudah berubah menjadi lebih sederhana dibandingkan budaya aslinya, baik dari waktu mengadakan dan isi dari seserahan itu sendiri. Misalnya, jaman sekarang Sangjit sering diadakan dengan waktu yang berdekatan dengan hari pernikahan, terkadang H-1 hari pernikahaan dan ada juga yang mengadakan pada hari H pernikahan (siang hari atau pagi harinya).

Untuk seserahannya sendiri, total keseluruhan ada 12 nampan / jumlah genap. Dengan isi kira kira sebagai berikut :
1. Perhiasan dan alat kecantikan (1set)
2. Pakaian mempelai wanita / kain bahan (1set)
3. Angpao yang terdiri dari (Uang susu dan uang pesta/sangjit)
4. Buah Apel (dengan jumlah berkelipatan 8)
5. Buah Jeruk (dengan jumlah berkelipatan 8)
6. Buah Pear (dengan jumlah berkelipatan 8)
7. Lilin merah besar (2 pasang dengan gambar naga dan burung phonix/hong)
8. Kaki babi (1 pasang), jaman sekarang sering digunakan makanan daging kaleng sebanyak kelipatan 8
9. Kalengan kacang polong sebanyak kelipatan 8
10.Kue mangkok merah (8 buah)
11. Arak, atau jaman sekarang sering juga digunakan wine / champagne (1 botol)
12. Arak, atau jaman sekarang sering juga digunakan wine / champagne (1 botol)

ada beberapa hal juga yang harus diingat dalam proses Sangjit ini, yaitu :
- Jika seserahan diterima semua oleh pihak pengantin wanita maka berarti, pihak keluarga wanita memutus hubungan dengan pengantin wanita dan menyerahkan seluruhnya pada pihak keluarga pria. Biasanya pihak keluarga wanita akan mengembalikan sebagian.
- Dalam budaya Tionghoa angka 8 merupakan angka keberuntungan, karena itu semua isi dari seserahan berjumlah kelipatan 8.
- Lilin merah dengan gambar naga dan burung hong berarti menghalau unsur negatif.
- Kue mangkok merah sebagai lambang dari keberuntungan.
- Jika pihak keluarga wanita memutuskan untuk mengembalikan sebagian seserahan (seperti yang dijelaskan di bagian 1) maka -- Angpao uang pesta dan kue mangkok merah diambil sebagian oleh pihak keluarga wanita dan dikembalikan sisanya. Saat mengembalikan, pihak keluarga wanita juga menambahkan 1set pakaian pria serta permen, kue dan coklat atau manisan. Selain itu pihak keluarga wanita juga akan memberikan angpao pada orang - orang yang telah membantu mengantarkan seserahan. Ada pula pada beberapa acara, pengantin wanita memberikan pakaian kepada orang tua pengantin pria.
- Yang terakhir, jika pengantin wanita melangkahi kakaknya dan menikah lebih dulu maka seserahan juga akan berisi 1 set pakaian untuk sang kakak.

Kira - kira demikian secara garis besar yang bisa saya tangkap mengenai Sangjit. Tapi perlu diketahui kalau yang namanya budaya, apalagi budaya lama seperti ini biasanya pasti akan ada perbedaan antara yang di sumatra, sulawesi, jakarta dan lain - lain.

Setelah mempelajari ini, saya sudah siap untuk foto acara. Tinggal membahas dengan pasangan pengantin dan keluarga mengenai detail acara seperti apa.Yang pasti saya sudah membayangkan akan banyak foto motif - motif detail, ornamen, moment - moment penting dan foto keluarga. Sepertinya yang saya butuhkan tetap seperti biasa lensa 50mm f1.8 + 35mm f1.8 + Macro (untuk foto detail / ornamen). Sippp...

Nanti saya share lagi pengalaman saya setelah hari H Sangjit di 30 Agustus :)

Sabtu, 05 Juli 2014

Antara fulltime fotografer dan kantoran

Akhirnya setelah bekerja selama hampir 4 tahun, sekarang adalah bulan terakhir saya sebagai pekerja kantoran. Selanjutnya akan menjadi fulltime fotografer, menjadi pemimpin diri sendiri.




Saya masih ingat dulu, ketika persiapan, yang saya rasakan hanya semangat dan rasa senang -- semakin mendekati hari terakhir mulai muncul rasa takut. Takut untuk memulai baru, takut untuk melepaskan pegangan dan rasa aman bekerja di perusahaan besar.Ada yang mengalami hal yang sama?

Secara teori, saya sering dengar mengenai rasa takut ini sebagai penghalang terbesar bagi seseorang untuk memulai usaha sendiri. Tapi tetap saja, walaupun tahu, tetap saja perut terasa mules dan jantung deg deg-an setiap kali teringat bahwa bulan ini terakhir. Persiapan saya sudah cukup? Modal saya sudah cukup? Bagaimana kalau nanti gagal? Bagaimana kalau... begini, begitu? Banyak sekali rasa takut yang muncul. Tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya mengikuti rasa takut, masa depan masih belum pasti, apa yang saya lakukan sekarang yang akan menentukan masa depan. Bukankah begitu :)

Beruntung sekali, bulan depan sudah mendapat 3 calon klient, 2 untuk foto baby dan 1 untuk prewedding outdoor. Memikirkan ketiga calon klien ini menjadi pendorong dan motivasi untuk berani. Mempersiapkan konsep, mempersiapkan kebutuhan, sesi foto dan akhirnya pembayaran, membayangkan apa yang saya kerjakan membuat saya tersenyum, inilah yang saya inginkan... fotografi...Tapi bukan berarti saya bisa bersantai, malahan saya harus bekerja lebih keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dibandingkan ketika saya bekerja kantoran.

Tapi begitulah adanya, saya memang tidak cocok bekerja kantoran dan saya memilih untuk bekerja keras di fotografi... memikirkannya saja sudah membuat saya tersenyum.Ahhh bahkan nanti sabtu dan minggupun harus bekerja, karena klien biasa lowong di hari itu.

Mengutip diri sendiri kala bergosip
"langkah pertama selalu yang paling sulit, langkah selanjutnya tinggal mengikuti saja"